?

Log in

No account? Create an account
 
 
14 January 2012 @ 01:21 am
Where We Piled Up Our Bricks of Memories (Prolog – Chapter 1)  
Title: Where We Piled Up Our Bricks of Memories (Prolog – Chapter 1)
Author: hanashiaru
Cast(s) and Pairing(s): SEPULUH member heiseijyampu. Yamada Ryosuke X Nakajima Yuto (main), and Various Pairings.
Genre: Friendship, Romance, Angst | Shounen-ai
Rating: PG-13
Disclaimer: I own nothing, NOTHING! Karakter punya Johnny’s Entertainment, sementara plot punya anime-manga Ano Hi Mita Hana no Namae o Bokutachi wa Mada Shiranai (tonton animenya, and you’ll get the spoiler) dengan perubahan xP I own... the writing only, cuma tulisan saja yang saya buat.



Prolog

Partikel-partikel mungil itu perlahan hinggap secara lembut pada indra penciumannya, dengan tidak bersuara gumpalan semi-imaji tersebut telah menjadi alarm bisu untuknya pada pagi hari itu dengan satu sengatan halus yang menggelitiki daya hirupnya. Udara pagi hari. Wangi khas musim semi. Membuat dua kelopak mata yang melindungi bola mata coklat bening itu perlahan membuka dan berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya matahari yang terbias menelusup ke dalam sela jendela kamarnya.

Yamada Ryosuke mendesah perlahan, meskipun masih tidak sekalipun dan sedikitpun mengganti posisi di atas tempat tidurnya. Pagi yang normal—tidak, pagi yang sempurna. Dan ia masih tidak mengerti kenapa ada sebuncah perasaan yang mengganjal hatinya sehingga ia tidak bisa terbangun layaknya orang yang menikmati suasana indah musim semi di pagi hari. Matanya terasa berat, dan ia masih dapat merasakan lelehan air mata yang masih belum mengering di sekitar pelipisnya. Ia tidak mengerti. Sama sekali tidak mengerti.

Seolah ia baru saja terbangun dari mimpi buruk yang selama ini ia tinggali... yang selama ini menjadi kehidupannya. Namun ia tidak bisa mengingat apa mimpi itu.

Pagi yang sempurna dan indah ini... terasa janggal.

“ONII-CHAAAN!”

Suara ini...

...

“ONII-CHAN!”

DAK

“Oi!” Ryosuke kontan protes, sebelum tangan adik perempuan bungsu-nya itu menghancurkan pintu kamarnya. “ Iya aku akan bangun, tunggu sebentar!”

“Tapi ini sudah jam delapan, Ryo-nii! Bodoh! Nakajima-kun sudah menunggu di luar daritadi nyaris setengah jam dan ia terlalu sopan untuk masuk ke rumah! Kau tidak punya perasaan, ya?!”

Ryosuke mengerjap, kaget. Seperti terkena sengatan listrik ribuan volt, seluruh tubuhnya segera bergerak untuk melakukan aktivitas normal paginya pada saat itu. Ia tidak menyangka akan bangun seterlambat ini dan... ah ya, Yuto.. dia, sahabatnya, kan?

Ini.. normal, kan? Yang biasa ia lakukan?

Sekitar lima belas menit kemudian ia keluar dengan tergesa, menyadari Chihiro dan Misaki yang sudah tidak ada lagi sosoknya di meja makan, membuat Ryosuke mendesah kesal karena menandakan ia sudah benar-benar telat untuk pergi. Yang masih sedang terduduk di meja makan hanya siluet ibu dan ayahnya yang sedang menggeleng-gelengkan kepala sembari tertawa kecil dan menyuruhnya untuk mengamit sepotong roti untuk pengganjal perut. Kemudian sebuah salam dan senyuman dari kedua orang tuanya itu cukup sebagai pengantar kepergiannya ke sekolah. Masih dengan tergesa, akhirnya kenop pintu terbuka dengan brutal.

“Yuto-kun!”

“Ah, pagi, Ryo-ch—“

“Nanti saja sapaannya! Terlambat, Yuto-kun!”

Gelak tawa renyah meluncur sempurna dari pemuda tampan itu kemudian, membuat pemuda yang lebih pendek di sampingnya itu mengerutkan dahi.

“Apanya yang lucu, Yuto-kun?!”

“Tingkahmu seperti murid-murid sekolah, Ryo-chan. Lupa kalau kita sudah kuliah, ya? Ketinggalan satu mata kuliah bukan masalah besar, kan? Kita masih bisa ikut kuliah lain di jam nanti. Lagipula yang pagi ini ada kuliah itu aku, bukan kau.”

Ryosuke merengut. “Aku lupa hari ini tidak ada jadwal. Tapi kau terlambat, Yuto-kun.”

“Tidak apa-apa.” Yuto melengkungkan senyum kemudian, “Aku bisa pinjam catatan, lagipula aku baru bolos satu kali, tenang saja. Katanya hari ini kau akan mengerjakan tugas di perpustakaan pusat selagi aku kuliah, tapi karena aku sedang tidak ada waktu... kita ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugasmu, oke?”

Yuto menepuk perlahan kedua bahu mungil itu sebelum menuntunnya untuk mulai berjalan, dan Ryosuke sendiri hanya bisa menurut.

“Hmpf.” Ryosuke menggulirkan bola matanya sebelum memusatkan perhatiannya kembali pada temannya itu. “Aku selalu merepotkanmu dan kau selalu bersikap bahwa itu adalah hal yang normal. Apa kau tidak pernah marah padaku, hm?”

“Tidak tahu ya. Sudah biasa sih.” Satu tawaan familiar itu kembali terdengar. “Mungkin karena aku suka Ryo-chan.”

Kalau sampai Ryosuke mati pada saat itu juga karena tersedak roti setelah mendengar ucapan yang baru terlontar barusan, sudah pasti Ryosuke akan menggentayangi Yuto seumur hidup. Namun Ryosuke hanya mengatupkan bibir sembari kembali menelan potongan rotinya dengan susah payah, masih tidak berkata sepatah katapun meskipun ia dapat merasakan kedua pipinya mendadak panas tidak terkontrol. Namun Yuto pun juga sudah tidak berkata apa-apa lagi, seolah seperti membiarkan Ryosuke meresapi kata-katanya. Beberapa menit terlewat hanya dengan keheningan sebelum akhirnya Yuto kembali bersuara.

“Ah, lihat itu Ryuu!”

Ryosuke melebarkan dua matanya, agak heran kenapa melihat bocah yang masih memakai seragam sekolah menengah itu masih berkeliaran pada jam seperti ini yang notabene sudah jam pelajaran, dan jalan ini sama sekali bukan jalan yang pantas dilalui untuk ke Horikoshi.

“Yuu-chan! Yama-chan! Maaf aku duluan! Aku sudah terlambat setengah jam! Maaf! Selamat pagi, ngomong-ngomong!”

Hanya itu saja yang mereka dapat bahkan sebelum Ryosuke sempat mengangkat tangan untuk menyapa. Ryosuke menghela nafas geli kemudian.

“Dia mengantar Chii yang terlambat bangun, biasanya begitu, kan.” Ryosuke tertawa kecil. “Sama sepertimu, Yuto-kun. Lucu sekali padahal dia masih SMA.”

Yuto hanya mengangkat bahu dan balas tertawa kemudian.

Beberapa langkah selanjutnya mereka pun banyak melewati orang-orang dan tak jarang ramah sekali menyapa mereka. Seperti Okamoto Keito dan Arioka Daiki yang sedang bekerja sambilan di toko buku yang seringkali mereka lewati, ataupun Takaki Yuya yang sedang berlari pagi, maupun Inoo Kei yang sedang berkutat dengan beberapa lembar kertas yang meluap di tasnya—seperti bahan-bahan tesis, atau entahlah mereka terlalu bergidik untuk membayangkannya. Sesampai di kampus pun mereka dapat melihat Yabu Kouta pun tak ayal sedang berjalan menyandang tas gitarnya bersama Yaotome Hikaru di sampingnya, ah ya, festival akan digelar beberapa hari lagi dan band seniornya itu akan tampil.

Semuanya terlihat seperti kehidupan normal yang membahagiakan.

Ryosuke termenung sesaat, mendadak hatinya terasa diremas kuat.

... apa maksudnya semua ini?

“Yuto-kun.”

.. kehidupan normal macam apa ini? Terasa indah namun kenapa.. ia merasa tidak pernah memilikinya. Semua kebahagiaan ini sama sekali tidak terasa familiar. Rasa ini terlalu asing.

“Yuto-kun...”

Menghela nafas, Yuto perlahan menolehkan kepalanya. “Ya, Ryo-chan?”

“... ga kirai.”

“Eh?”

“Dai kirai..”

“Ryo-chan?”

“Aku membencimu.”

“Ryo-chan?!”

“Aku sangat membencimu, Yuto!”

Tidak! Apa yang baru saja ia katakan? Bukan, ini bukan maunya, sama sekali. Itu semua sangat di luar kontrol dan entah apa yang menyebabkan kalimat itu terlontar. Entah apa yang harus ia rasakan pada detik kalimat itu meluncur dari dua sisi bibirnya. Namun yang pasti, ia lega, mengetahui dengan jelas bahwa karena kehidupan normal ini...

... memang bukan miliknya.

  ~000~  

Chapter 1

Spring, 2012

Ryosuke menghela nafas tajam tepat ketika dua bola matanya terbuka lebar. Keringat dingin merembes keluar nyaris dari seluruh tubuhnya dan sontak ia menutupi wajahnya dengan bantal untuk sedikit menenangkan tubuhnya yang tanpa sadar bergetar hebat. Nafasnya masih keluar masuk tidak teratur, jantungnya pun bekerja lebih aktif dari biasanya.

Namun ia tidak menangis.

Entah apa yang baru saja ia lihat di mimpinya beberapa saat yang lalu. Rasa yang tertancap di relung hatinya saat ini juga tidak dapat terceritakan dengan pasti. Kehidupan normal yang baru saja ia lihat itu memang bukan miliknya, sama sekali bukan dan tidak akan pernah menjadi miliknya. Ryosuke sudah tidak lagi mengenal kehidupan semacam itu... semenjak hari itu.

Bias matahari itu sudah menelusup tanpa izin, menandakan hari sudah nyaris bertemu setengahnya. Namun ia sama sekali tidak peduli, karena memang sama sekali tidak ada yang perlu dipedulikan dari kehidupannya.

Bahkan Misaki sudah berhenti membangunkannya setiap pagi sejak hari itu.

“Ohayou, Ryo-chan..”

Ya, sejak hari it—

—....

“GYAAAAAAAAAHHHH!”

Jika tempat tidurnya tidak bersentuhan dengan dinding, sudah dapat dipastikan tubuh Ryosuke terjengkang hebat pada detik itu juga. Paru-parunya kembali berespirasi dengan tingkatan yang lebih hebat serta tubuhnya pun juga lebih bergetar aktif dari biasanya.

Sosok itu. Sosok yang sudah nyaris tiga belas tahun tidak pernah ia lihat, saat ini sedang duduk bersimpu di sisi ranjangnya dengan dua tangan mungilnya yang menopang dagu serta lengkungan senyum lebar tanpa gigi.

Ini... halusinasi kah?

“Teehee~ reaksi Ryo-chan imut sekali.” Tertawa. Seolah tanpa beban. Manis seperti biasanya. Polos seperti mengabaikan semua permasalahan duniawi.

Dia... halusinasi yang paling parah. Entah kenapa baru sekarang sosok ini muncul. Ryosuke perlahan mulai menghela nafas berat dan mencoba untuk menenangkan diri kemudian terduduk tegak. Memakan waktu lama bagi Ryosuke untuk meneliti figur yang masih saja tersenyum serta menopang dagu di tepi ranjangnya ini. Ryosuke baru menyadari betapa mungilnya tubuh itu, dengan pipi sedikit menggembung khas anak kecil tanpa dosa serta dua sisi bibir merah muda itu. Rambut hitamnya yang terlihat sangat halus jika terpegang, dua bola matanya yang masih menyala dengan pijar yang meluap. Benar-benar anak kecil... Yuto-kun..

“Yuto-kun..”

“Ya, Ryo-chan~”

Ryosuke terdiam sejenak sebelum membuka mulutnya untuk melontarkan satu kalimat namun sosok di hadapannya ini sudah memotong terlebih dahulu.

“Ryo-chan sekarang sudah bertambah besar, aku senang sekali.” Satu kalimat yang sanggup membuat Ryosuke untuk menarik kembali kalimatnya, sedangkan Yuto masih tidak bosan-bosannya untuk melengkungkan kurva senyumnya. “Padahal dulu tubuh kita sama-sama kecil ya, hehe. Tapi aku masih saja kecil seperti ini dan Ryo-chan saja yang bisa bertambah besar! Aku kagum! Ryo-chan juga sangat tampan sekarang!”

Ryosuke hanya terdiam.

“Ryo-chan—“

“Kenapa kau muncul sekarang, Yuto-kun?”

Yuto menarik dua ujung bibirnya, “Ara~ Ryo-chan masih memanggilku dengan sebutan itu. Padahal Ryo-chan lebih tua dan aku masih dengan tubuh yang seperti ini, panggil aku Yuu-chan seperti yang biasa Ryuu, Chii, Keito, serta yang lain seri—”

“Yuto-kun!”

“Haah. Ryo-chan seram!” Yuto terkikik pelan dan singkat, namun sedikit menelan tawanya dan juga memasang ekspresi sedikit serius. “Baik baik, Ryo-chan~ tapi sejujurnya.. aku juga tidak tahu kenapa aku ada di sini.”

“Hnh?!”

“Aku sungguh tidak tahu, Ryo-chan.” Kepala mungil itu pun tergeleng dengan penuh keseriusan, dengan ekspresi yang juga benar-benar menunjukkan kesungguhan... kenapa Ryosuke dengan konyolnya berpikir pemandangan itu adalah hal yang paling manis, heh? “Aku ada di sini tiba-tiba.. yah, aku tidak tahu. Mungkin.. ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Hehe.”

Ryosuke mengangkat alis, “Ngh. Bicaramu seperti hantu gentayangan.”

Yuto terdiam.

Dan sungguh Ryosuke sudah mengira Yuto akan menangis pada saat itu juga dan berteriak ‘Ryo-chan jahat!’.

“Ehehe. Mungkin~” namun itulah yang sosok mungil itu berikan, tawaan lagi. “Tapi Ryo-chan tidak seram melihatku, kan?”

Bagaimana bisa seram kalau sosok yang ada di hadapannya ini hanyalah seorang anak kecil berumur enam tahun dengan ekspresi tidak berdosa serta seolah tidak mengenal kekejaman dunia? Tak luput dengan pahatan wajah yang luar biasa manis dan imut yang pernah ada. Yang ada Ryosuke malah ingin memakannya—err, coret saja kalimat terakhir ini.

Apakah ini benar-benar halusinasinya semata? Rasa trauma dan stres yang berkepanjangan atau semacamnya. Entahlah.

Yang pasti Ryosuke tidak mengerti kenapa sosok ini baru muncul di hadapannya setelah tiga belas tahun berlalu? Setelah semuanya berlalu dengan cepat dan nyaris tak berjejak seperti laju angin. Ketika segalanya sudah berubah seratus delapan puluh derajat, dan susah untuk kembali lagi. Kenapa juga sosok ini masih bisa tersenyum dan bersikap normal layaknya seperti pada masa itu?

Benar halusinasinya kah?

“Ryo-chan~”

.

.

.

Satu jam nyaris berlalu setelah kejadian munculnya Nakajima Yuto, dan Ryosuke hanya bisa menghela nafas jengah ketika tahu Yuto masih belum lelah mengikutinya seharian penuh di area kampus. Tidak ada pembicaraan khusus setelah itu, tentu saja Ryosuke pun tidak ingin dianggap sebagai orang sinting untuk berbicara sendiri—dan herannya Yuto cukup mengerti untuk tidak sekalipun mengajaknya berbicara, yang anak itu lakukan hanya terus mengulas senyum dan berjalan dengan langkah-langkah riang dan tak jarang menggumam dan berkomentar antusias tentang keadaan sekitar.

“Yamada-kun.”

Baru saja yang merasa terpanggil itu berbalik, satu detik setelahnya wajahnya telak terlempar oleh lembaran-lembaran kertas dengan kasar. Namun tidak ada reaksi khusus yang Ryosuke tunjukkan untuk selanjutnya, meskipun ia dapat merasakan Yuto terbeliak kaget di belakangnya.

“Aku sama sekali tidak pernah merasa untuk menyuruhmu membuat lembaran-lembaran berisi seonggok kalimat-kalimat yang menyerupai sampah untuk ditunjukkan kepada rektor!”

Ryosuke hanya membungkuk dan mengamit kertas-kertas tersebut tanpa menunjukkan ekspresi yang berarti, datar seperti biasanya. Proposal yang ia buat nyaris sampai melupakan tugas-tugasnya, ah, nyatanya susah mempunyai ketua yang perfeksionis.

“Aku minta maaf, Chinen-kun. Besok akan kuserahkan lagi proposal yang sudah—”

“Memang sudah seharusnya, tidak usah kau katakan.”

“Maaf, Chinen-kun.”

Yuto, yang sedaritadi hanya bisa mengerjap dengan dua sisi bibir yang setengah terbuka pun akhirnya mengeluarkan desahan kesal. “Eeeh, apa yang Chii lakukan padamu, Ryo-chan? Kenapa juga kau tidak melawan?! Memang kalau dulu kalian bertengkar pasti Chii selalu menang tapi setidaknya Ryo-chan harus usaha, kan? Ryo-chan!”

Membungkuk sedikit untuk mengiringi kepergian Chinen Yuuri, Ryosuke menghela nafas kecil.

“Ryo-chan! Jawab! Ryo-chaaaaan!”

“Tidak ada gunanya. Aku tidak berminat untuk berurusan dengannya dan aku tidak pernah peduli bagaimana dia mau bersikap.” Suara yang luar biasa kecil agar tidak mengundang perhatian, Ryosuke hanya menjawab kecil sebelum akhirnya menggerakkan kakinya untuk menjauh.

“Chii-chan terbiasa sangat lucu dan menggemaskan..” Yuto bergumam, entah kalimat itu ditujukan pada Ryosuke atau tidak, yang pasti Ryosuke tidak ada niat untuk menanggapi mengingat mereka masih berjalan di tempat umum. “.. tapi Chii-chan yang tadi kulihat sungguh... haa, kowaaii! Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa, meskipun dia masih sangaaat mini untuk seumurnya. Hehe. Lagipula aku sangat kaget saat kalian memanggil nama keluarga, bukan ‘Yama-chan’ atau ‘Chii’. Haa, kenapa itu? Ne, Ryo-chan?”

Tidak menjawab.

Yuto hanya mengulum bibir.

Kembali menyelam pandangan pada sekitar.

“Ah.. eeto, Ryo-chan. Itu Dai-chan dan Keito!” mood itu berubah sedikit naik, cukup membuat Ryosuke terlonjak dalam setengah keterkejutan. “Haa.. mereka sungguh berbeda, Ryo-chan. Mereka tumbuh besar..”

Masih tidak ada jawaban, meskipun Ryosuke menghentikan langkahnya untuk menemani Yuto agar puas melihat dua orang yang baru saja tersebut namanya. Keito yang sedang bersandar di batang pohon sementara Daiki yang sedang memasang guratan wajah kesal padanya. Posisi Ryosuke dan Yuto pun tidak begitu jauh namun cukup bisa menyembunyikan diri jika berhati-hati.

“Kenapa mereka terlihat muram, Ryo-chan?”

Lagi, Ryosuke tidak menjawab.

“Aku sangat muak, Okamoto. Asal kau tahu.” Terdengar suara Daiki yang dengan setengah jelas bisa ditangkap oleh dua telinga milik Ryosuke dan.. Yuto. “Jika kau benar-benar tidak mempunyai maksud lain dari semua ini, katakan kepada mereka!”

Keito hanya memalingkan muka sebagai reaksi. “Aku tidak peduli.”

“Pengecut.”

Dua mata tajam milik Keito itu berkilat seketika, satu jari telunjuk dan ibu jarinya dengan cepat menekan rahang milik seniornya itu dengan keras. “Aku tidak—“

Lengosan tawaan yang dibumbui remehan itu terdesis dari bibir lawannya.

“Aku tidak mau mendengar lagi apapun yang keluar dari mulut besarmu, Daiki. Tutup mulutmu atau aku bisa menyakitimu lebih dari ini.”

Dan dengan itu, Keito mendorong tubuh Daiki dengan keras—yang dibalas hanya dengan tawaan dari pemuda yang lebih tua dua tahun darinya itu.

“Aku tidak akan pernah mau untuk berhubungan denganmu hanya dengan alasan konyol itu! Aku menentang semuanya! Aku tidak akan pernah mau sampai—argh!” satu cengkraman keras di pergelangan tangan Daiki, dapat terlihat bagian tubuhnya itu mulai membiru nyaris seperti ada yang menyumbat aliran darah di dalamnya.

Yuto terbeliak seketika, “Dai-chan! Ryo-chan, Ryo-chaaan, tolong Dai-chan—”

Dan Yuto kembali terdampar dalam keterkejutan ketika melihat Ryosuke sudah mengambil langkah ke arah mereka sebelum Yuto sempat menyelesaikan kalimatnya. Ryosuke melepas cengkraman keras itu dalam beberapa detik, membuat Keito dan Daiki sempat terhenyak akan kedatangannya.

“Tidak ada alasan untukmu menganggu kami, Yamada-san. Kau orang luar dalam hal ini.” Keito berdesis, nadanya cukup mengancam namun diucapkannya dengan garis wajah tenang.

Ryosuke menarik satu sudut bibirnya, “Kau menyakiti senpaiku, Okamoto. Kurasa aku juga tidak mengingat kampus kita melegalkan kekerasan.

“Cukup, Yama-chan. Kumohon, kau bisa pergi.” Daiki berujar, amat perlahan.

“Dai-chan! Dai-chan, kumohon jangan menangis!” suara melengking Yuto menggema hanya pada daun telinga Ryosuke, dan ditanggapi oleh sapuan bisu angin lalu. “Dai-chan..”

“Keito.” Satu suara yang menjadi pendatang baru itu terdengar.

“Yuya-kun!” Yuto, antusias melihat satu orang yang dikenalnya muncul satu lagi.

Ada segaris keterkejutan dari wajah Daiki pada saat itu juga, namun segera terbungkam dengan tundukan kepalanya. Sementara Ryosuke hanya terdiam dan Keito hanya menoleh pada suara berat yang baru saja memanggilnya.

“Selesaikan masalahmu dengan cepat. Rapat tidak ada waktu untuk menunggumu.”

“Tidak usah menungguku.” Keito menanggapi dengan cepat.

Takaki Yuya menyipitkan matanya, namun mereka yang ada di sana bisa melihat kilat mengesalkan dari dua mata si brunet tersebut.

“Tiga tahun sudah cukup untuk menyelesaikan semua dengan Arioka, Keito. Cukup untuk semuanya.” Takaki melirik jengah pada Daiki yang masih saja menundukkan kepala, “Keegoisanmu untuk berada menjadi satu keluarga dengan marga Nakajima itu sangat konyol dan semua orang sudah tahu hal ini. Semua orang tahu obsesi konyolmu tentang Yuto sehingga kau, mendekati—“

“Cukup!” Ryosuke menjerit. “Cukup..”

Lima tahun lalu, ibu dari Arioka Daiki dan ayah dari Nakajima Yuto memutuskan untuk saling melengkapi kekurangan pendamping hidup dengan menikah. Mungkin kepala keluarga Nakajima itu sudah tidak sanggup untuk mengurus Nakajima Raiya seorang diri, istri dan anak pertamanya sudah meninggal terlebih dahulu dan pekerjaan menuntutnya untuk bisa mengalihkan perhatian keluarga sejenak. Namun meskipun demikian, Daiki serta kakak-kakaknya masih tidak mau turut memakai nama marga Nakajima.

Serta Keito...

“Yang kau lakukan bukan lagi cinta, Keito. Kau terobsesi.. dan gila.”

... Keito yang mengetahui itu semua, mengejar Arioka Daiki.

Yang entah kenapa berhasil mempengaruhi kedua orang tua tersebut untuk menyetujui hubungan satu pihak antara Keito dan Daiki.

“Kau gila akan Yuto, Keito..”

“Ne..” Yuto berujar dengan suara yang sedari tadi terdengar aktif itu perlahan mulai menurun volumenya, cukup membuat Ryosuke sadar bahwa keantusiasan Yuto sudah menurun drastis. Diliriknya Yuto yang sedikit menurunkan kelopak matanya menjadi sedikit sayu, “.. aku sama sekali tidak mengerti kenapa semuanya bertingkah seperti orang yang tidak kukenali lagi..”

Ryosuke hanya bisa kembali menghela nafas.

***

Summer, 1999

“Haa! Yuto-kun, Yuto-kun! Lihaat! Kei-chan bisa memainkan piano!”

Jari-jemari mungil milik Ryosuke dengan heboh menarik-narik pergelangan kaos milik bocah yang ada di hadapannya meskipun dua bola mata bulatnya masih terpaku pada gerakan dari sepuluh jari milik anak kecil berumur sembilan tahun tersebut yang sedang menari apik di atas tuts.

“Sugee..” seolah tidak mau membuyarkan konsentrasi seniornya yang kabarnya baru saja dua minggu berlatih piano itu, Yuto menepuk-nepuk kedua tangannya tanpa mengeluarkan bunyi sedikitpun. “Kei-chan bisa belajar cepat ya.”

“Hwah, Kei-chan jadi semakin elegan dan anggun!” Hikaru, yang tidak jauh berdiri di samping kedua bocah itu pun juga turut menyunggingkan senyum, yang tentu saja menampakkan gingsulnya yang memukau tersebut.

“Sou sou!” Daiki juga turut mengangguk antusias.

Sementara Chinen Yuuri dan Okamoto Keito yang sedang tertelungkup di atas satu sofa di dekat mereka pun hanya memejamkan mata sembari mengulas tersenyum, seolah mau meresapi lagu yang asing sekali di telinga Chinen—lagu barat untuk anak-anak, dan Keito tentu saja tahu mengingat setengah tahun lalu ia adalah murid baru. Takaki Yuya pun turut menghentikan aktivitasnya dari kulkas menuju sumber suara. Yabu Kouta yang sedang memangku sepupunya, Morimoto Ryutaro—yang demi Tuhan masih balita, empat tahun, bayangkan sudah sering ditinggalkan orang tua sehingga Yabu sering ditimpa tugas nonformal ini—juga turut melihat dan tanpa berkedip, dan Ryutaro sendiri anteng sekali entah kenapa.

Mereka bersepuluh adalah anak-anak yang menempati jalan satu arah daerah Kaberoka. Di mana orang tua mereka memang mencoba untuk membangun kekeluargaan yang erat dan yang pasti juga sudah mendekatkan anak-anaknya agar di masa depan bisa membangun persatuan kekeluargaan yang sama. Hanya mereka bersepuluh yang berada dalam usia sepantaran sekolah dasar, sementara yang lainnya sudah sibuk dengan kehidupan remaja ataupun dewasa. Tidak heran mereka sudah lama saling mengenal, kecuali Keito yang baru saja datang enam bulan lalu dari Inggris. Bahkan Morimoto Ryutaro sendiri adalah penghuni lama dan sudah sejak umur tiga tahun sering Yabu Kouta bawa ke basecamp mereka ini, sebuah rumah kayu mini yang orang tua mereka semua buatkan tidak jauh dari rumah mereka.

Setiap hari setelah pulang sekolah, pasti mereka berkumpul di rumah kayu ini dan akan pulang setelah pukul lima sore.

Sentuhan tuts terakhir mengakhiri permainan Inoo Kei pada siang menjelang sore hari itu. Tepuk tangan riuh dari sembilan pasang tangan pun sontak saja membahana di sebuah ruangan mini tersebut.

“Huwaah, Kei-chaaan hebaaat~” Hikaru langsung melingkarkan kedua lengannya pada leher mulus Inoo Kei itu dan menggesek pipi si pianis cilik newbie tersebut dengan pipinya sendiri. “Haa.. Kei-chan jadi semakin cantik!”

“Ungh, Hikka-chan.. se-saak..”

BLETAK

Satu buah botol susu milik Ryutaro telak mengenai Hikaru pada detik itu juga.

“Ahmh.” Suara serak milik Yabu Kouta, ternyata. “Kei-chan sesak, tahu. Hikka-chan dengar sendiri, kan?”

“Bwee. Kou-chan jahat.”

Yuto tertawa geli. “Aduh, Kei-chan dan Hikka-chan mulai lagi. Ah iya, aku tidak bosan bilang Kei-chan hebat! Benar lho!”

“Hee.. aku cuma baru bisa tiga lagu, Yuu-chan.” Inoo mengusap-usap puncak kepala Yuto sembari tertawa tipis. “Jangan memuji dulu begitu, ah. Kalian terlalu meninggikan aku.”

“He? Masa? Tapi Chii rasa permainan Kei-chan bagus kok!”

“Un un! Bagaimana bisa menyeimbangkan tangan kanan dan tangan kiri secara bersamaan begitu!” Daiki turut menimpali.

“Sugoii.. Kei-chan.” Takaki Yuya, sembari menggigit apelnya.

“Ha.. Kei-chan kalau besar jadi pianis saja.” Keito menimpali.

Ryosuke pun tersenyum lebar, “Waah, keren! Nanti kalau Kei-chan muncul di televisi, Ryo-chan akan kasih tahu ke semua orang bahwa itu adalah teman Ryo-chan! Aah, benar-benar keren..”

Anak-anak, naif tanpa dosa, terkesima jujur dengan sepenuh hati mereka.

Dan Inoo Kei, entah sudah memerah seperti apa wajahnya saat ini. “Ahahaa.. jangan begituuu.” Namun akhirnya tertawa tipis juga untuk mengatasi nervousnya. “Aku juga tidak ingin jadi pianis. Aku ingin ke bidang akademis saja, teman-teman. Musik itu hobi aku saja kok.”

“Huwoh! Kei-chan sangaaaat elegan.” Hikaru kembali bersuara.

“Nnnh! Daaameee! Koou-chaan!”

Lengkingan suara yang jarangan didengar tersebut spontan saja menarik sumber suara. Si kecil Ryutaro, ternyata. Spontan saja sembilan orang itu menggelakkan tawanya, terangsang tertawa melihat kelucuan melihat Ryutaro yang protes akan buku bergambarnya yang sudah akan siap Yabu lempar lagi pada Hikaru.

“Haa.. Ryuu-chan kawaii na..” Chinen yang kebetulan posisi tertelungkupnya ada di dekat bocah balita itupun menusuk-nusuk pelan pipi halus Ryutaro.

Semuanya terasa sangat normal. Ryosuke tertawa lepas pada saat itu. Semuanya tersenyum, termasuk dirinya. Kebahagiaan itu sangat familiar, dan kebahagiaan itu memang miliknya...

... pada masa itu.

.

.

.

Winter, 1999

“Keito-kun, bahasa inggris itu susah sekali ya untuk orang Jepang?” sebelah pipi chubby itu menggembung dengan permen manis yang sedang dinikmatinya, sementara dua bola matanya yang bulat semakin membulat ketika melihat beberapa buku bacaan Okamoto Keito yang dibawanya penuh dengan huruf-huruf terangkai yang memusingkan untuk anak usia enam tahun. “Yuu-chan selamanya tidak bisa ke Inggris dong, haah.”

“Ah, tidak juga, Yuu-chan!” Keito terkikik sedikit dan tersenyum tipis, “nanti aku ajari, gampang kok.”

“Hontou da?” Chinen yang ada di sebelah Keito pun melebarkan matanya. “Waa, nanti kita bisa ke luar negeri bersama~ nee, Yama-chan? Ne? Daritadi Yama-chan tidur saja!”

Ryosuke mengerjap, setengah nyaris menunjukkan ekspresi gelagapan. “Aang, Chii-chaan! Mengganggu tidur Ryo-chan saja ah! Daritadi malem Chihiro-nee berisik sekali berlatih pianika, Yama-chan nggak bisa tidur.”

“Huu, Ryo-chan. Nanti kalau Ryo-chan tidur, tidak akan bisa pernah tahu kalau kita sudah ada di Inggris lho.” Yuto berujar dengan bangga.

Sementara Ryosuke tidak mengerti, tentu saja. “Apaan sih? Kalian kan nggak punya uang untuk pergi ke Inggris. Lagipula Inggris itu jauh.”

“Ryo-chan bodoh! Tidak bisa diajak bercanda!” Yuto menggulirkan matanya. “Maksudnya, nanti kalau kita sudah besar~ iya kan, Keito-kun?”

“Yep.” Keito tersenyum, menyetujui tanggapan Yuto dengan cepat. “Nanti kalau sudah besar, kita bersembil—ah, Ryuu-chan juga, dia pasti sudah bisa bicara dengan sangat baik pada saat itu! Ya, kita bersepuluh bisa berlibur bersama ke sana. Musim panas mungkin?”

“Waaa, hebat hebat!” Chinen terlonjak antusias, “Asyik. Kita bisa menginap di rumah Keito-kun di sana! Ah, Chii juga ingin naik pesawat!”

“Ah iya, pesawat!” Yuto juga menimpali. “Tapi naik pesawat itu ribet ya, kata ayah.”

“Aku bisa menunjukkanmu apa saja larangan dan bagaimana ketika ada di dalam pesawat, Yuu-chan.” Keito berujar, melihat Yuto yang tersenyum lebar. “Nanti aku ambil tempat di sampingmu—“

“Yuto-kun di samping Yama-chan!” Ryosuke kontan berteriak.

Yuto menaikkan alis, “Eeh? Kalau begitu nanti aku tidak bisa tahu apa tata cara aturan naik pesawat—“

“Yama-chan nggak peduli! Pokoknya di pesawat, Yuto-kun harus duduk di samping Yama-chan!”

“Kenapa harus?” Yuto kebingungan, jujur saja.

Ryosuke terdiam, wajahnya memerah entah karena kesal akan ketidakmengertian Yuto atau.. memang ada hal yang lain. “Yuto-kun bodoh!”

“Eh? Eh?” Chinen pun ikut-ikutan bingung. “Sudahlah, kenapa jadi begini sih?”

“Yuto-kun bodoh! Pergi sana saja naik pesawat sama Keito-kun! Kalau pesawatnya meledak lebih baik! Tapi biar Keito yang selamat dan kembali ke rumah, biar Yuto-kun mati saja!”

Dan apa yang baru saja terlontar tersebut hanya ditanggapi oleh tawaan oleh Yuto kemudian. Satu tangan kecil itu terangkat menyapu helaian rambut atas Ryosuke dan mengucapkan permintaan maaf untuk terlalu bodoh, dan Ryosuke kemudian sama sekali tidak menjawab—terlalu malu.

Tapi, kalau waktu bisa kembali berputar, Yamada Ryosuke ingin sekali meminta maaf pada saat itu juga.

Karena pada malam hari setelah itu, Ryosuke hanya bisa menjerit dan berlari keluar dari rumahnya menuju rumah kediaman Nakajima ketika ibunya mengatakan bahwa satu kecelakaan bus menyebabkan hilangnya dua penyandang nama Nakajima pada malam itu. Ryosuke tahu benar malam itu Yuto dan ibunya akan mengunjungi kediaman nenek dan kakeknya di Fukushima, serta Yuto sendiri sudah berjanji akan membawakan oleh-oleh dari sana untuk kawan-kawannya terutama Ryosuke, namun...

... namun nyatanya inilah yang terjadi. Yuto masih enam tahun, demi Tuhan. Anak sulung keluarga Nakajima itu hanyalah seorang anak kecil yang bahkan sebentar lagi akan berbahagia karena akan memasuki sekolah dasar.

Dan ia sama sekali tidak tahu, sejak hari itu.. semuanya akan berubah.

Dirinya dan delapan kawannya, lingkungan sosialnya, orang tuanya bahkan keluarganya turut berubah.

  ***  

Spring, 2012

“Ryoo-chaaaaan! Aku tahu kau sudah jauuuuuuuuuh lebih tinggi dariku, haa.. tapi jangan lari-lari di rumah sendirimu sendiri..”

Halusinasinya yang satu ini memang benar-benar hidup.

Hah.

“Ryo-chaan!”

Lengan mungil itu terasa melingkari kaki bawahnya, tidak terlalu erat dengan tenaga yang tidak seberapa namun cukup membuat Ryosuke terpaku. Di tengah-tengah kebimbangannya untuk merasakan apa ia yang memang sedang sakit jiwa karena stres atau memang Yuto benar-benar kembali karena ada masalah yang belum terselesaikan selama tiga belas tahun yang sudah terlewat ini...

... entahlah.

“Berisik, Yuto-kun.”

“Hnnnnh! Kenapa orang beranjak besar selalu seperti ini? Dulu Ryo-chan pernah berjanji kalau kita besar, kita tidak akan menyebalkan seperti sensei-sensei di sekolah! Sekarang kenapa—“

Ryosuke mengacak rambutnya frustasi dan mendesah keras sebelum akhirnya ia kembali bersuara, “BERISIK!”

Tidak ada balasan lagi. Ryosuke mengutuk dirinya sendiri yang membiarkan sedikit bersalah untuk berhasil menggerogoti isi hatinya.

“Tiga belas tahun, kenapa kau baru muncul sekarang?” nada suaranya sedikit menurun, meskipun nada ketus masih ada terdengar. “Tiba-tiba muncul dan memelukku seolah tidak ada yang berubah dan seolah-olah kau tidak pergi meninggalkan kami! Karena kau, Yuto-kun, KARENA KAU—“ Ryosuke berbalik, guratan wajahnya penuh diwarnai dengan desperasi dan ia cukup melihat Yuto sedikit terhenyak dengan ekspresinya yang terpajang saat ini, “—... semuanya berubah setelah kau pergi, semuanya berubah! Inoo-san, Yabu-san, Yaotome-san, semuanya!”

Hening kembali menelusuk sebelum Ryosuke kembali berbicara.

“Keito menjadi gila akan obsesinya pada dirimu, kau lihat sendiri apa yang ia lakukan pada Daiki, Yuto-kun?! Keito sangat menyukaimu bahkan hingga kau mati, damnit! Membuat perjodohan absurd dua laki-laki yang entah bagaimana caranya pula bisa disetujui oleh wali masing-masing! Sementara Takaki-kun yang sudah memendam perasaan pada Daiki—dan sebaliknya—kontan saja memendam perasaan hancurnya sendiri dan tidak jarang juga Takaki-kun bersikap dingin pada Daiki. Kau lihat sendiri tadi?!” nadanya menaik seiring hela nafasnya yang juga semakin terasa terbawa emosi. “Kau meninggalkanku juga, Yuto-kun. Begitu saja. Kau teman pertamaku, satu-satunya, dan kau pergi. Aku yang masih labil pada waktu itu sempat mengurung diri di rumah dan tidak sekolah selama tiga bulan! Sampai sekarang, aku bahkan lupa bagaimana caranya tersenyum... keluargaku berhenti berbicara padaku karena aku pemurung. Aku.. membencimu!”

Ini persis seperti mimpinya tadi malam.

Ya, ia baru inget bahwa selama ini Ryosuke masih terkungkung dalam keegoisannya membenci Yuto. Terus, yang membuat kehidupannya berubah. Membuatnya ia kehilangan teman-temannya.

Dan yang terasa selanjutnya hanyalah kediaman.

Ryosuke kembali merasa bersalah, sial.

“Ryo-chan, gomenasai..” Yuto mendesis, pelan. “Aku.. aku tidak tahu akan begini, Ryo-chan. Bu—bukan mauku aku... meninggalkan kaliani.”

Desiran aneh mendadak terasa menelesak di dalam hatinya pada detik itu juga, rasanya benar-benar sesak.

“Aku tidak tahu juga semuanya akan seperti ini, Ryo-chan. Bukan mauku untuk meninggalkanmu, aku juga sama sekali tidak mau untuk membiarkanmu melewati kehidupan remaja dan dewasa sendirian.. aku tidak bisa menemanimu selama ini, bukan mauku, Ryo-chan. Gomenasai... gomenasai..”

Ryosuke terdiam, entah kenapa saat ini ia ingin sekali menangis, mengeluarkan gelegak semua isi hatinya... namun ia tidak bisa, karena ia sudah lupa bagaimana caranya dan rasanya menangis.

tsuzuku

Hmh +__+
Rada nervous sebenernya pertama kali nulis shounen-ai pake bahasa Indo di fandom ini. Alalala.
Ya sudah, maaf kalo ada yang janggal dsb. Mohon kritik dan komen jika yang berminat, jika tidak, silahkan. Silent reader juga tak masalah, thank you =3
Next chappie, insyaAllah nanti. Tapi cerita ini main plotnya persis sama anime Ano Hi Mita Hana no Namae o Bokutachi wa Mada Shiranai, kalo udah ada yang tahu animenya ya... ya itu ceritanya sampe ke ending paling diubah dikit, hehe.

 
 
 
(Deleted comment)
hanashiaru: Yutohanashiaru on January 14th, 2012 06:27 pm (UTC)
aku kaget ada yang baca ./////.

lain kali kalo ada waktu cari2 aja anime-nya, gaii-chan. galau T-Tb udah lama ga nangis gegara anime, hihi.

it's okay, take your time ^ ^a
and thank you sooooooooooo much for visiting! :*
(Deleted comment)
hanashiaru: sebashanashiaru on January 14th, 2012 06:29 pm (UTC)
hwkwkwk. tenang aja, bb, tapi ini ga sama persis kok. ada bagian yang aneh lah kalo disamain persis, nyaaan. hehe.
iya galau banget, bb. udah lama ga mewek megap2 nonton anime wakaka. terakhir kali nangis nonton 5cm per second, sebelum itu nangis sebelumnya nonton Mother xP
aah, jadi kangen ffic bb yang beginian kan. ahaha. tenshi noh tenshii =)) langsung aja bagian yuto sama yamachan dah! =)) #seenaknya

makasi, bb, udah mampir mT-Tm
zeon_avalanthezeon_avalanthe on January 14th, 2012 03:25 am (UTC)
hmm.. ternyata Yuto.nya arwah yah.. sudah kuduga..
semua kehidupan baik2 saja diatas itu, mimpi..
XDD

apdet lagi dooong~ XDD
*glomps*
hanashiaru: yamachaanhanashiaru on January 14th, 2012 06:31 pm (UTC)
hihi, yuto si arwah unyu -__-a #heh
iya mimpi, wkwkwk. abis prolog-nya bingung mau gimana wekekek.

iya, pasti apdet. digilir .__.a
/glompsjuga
makasih udah mampir :* kanjen deh ih *towel2* #eaa
zeon_avalanthezeon_avalanthe on January 16th, 2012 01:37 am (UTC)
:D
yah, baiklah.. sepertinya memang lebih bagus prolog.nya memang dijadikan sebuah mimpi aja..

ditunggu yooo, apdetannya~
sama2~ XDD
Vaikuramujii on January 14th, 2012 04:18 am (UTC)
Wooo kerenn XDDD
Enak pula pake bahasa Indo jadi gampang dimengerti |D
Bahasa kau bagus banget deh Tar~ :D
Ayo lanjut! /shot
hanashiaru: nishiihanashiaru on January 14th, 2012 06:33 pm (UTC)
represing pake bahasa indo, vai =))
ah masa? *towel2* #hegh
iya pasti dilanjut, i just need.. time? =)) *hedeh apaan dah* =))
makasih banyak udah mampir, say :*
emerald_love_96emerald_love_96 on January 16th, 2012 09:01 am (UTC)
keren 0_0
kasihan si ayam 'A' nyesek bgt baca pas dia dilempari kertas ama chii ;A;
AAAA pas bagian yuto minta maaf jg nyesek ;;;w;;; bagian si ayam cerita di akhir jg nyesek ;;;A;;;
lanjut neechan <3